syukur

menatap terbit matahari seraya menyambut cinta yang bersemi kembali di ufuk reinkarnasi waktu setarik nafas perjumpaan kutulis untukmu dalam selarik puisi mengabadikan mekar kuntum mawar di kedua bola matamu dan jari teratai sukma menggelitik hati kita “akankah kita menyentuh wajah Tuhan hari ini?” image, courtesy of gettyimages.com

sebuah syair untuk hujan

(1) langit bergemuruh melukis langit yang rapuh senyap menatap garis horizon perlahan lenyap ditelan gelap aku berjalan mematut ragu melangkah mundur mencari jejak kenangan potret cinta di senja takdir bersyair tentang pertemuan dan perjalanan (2) kau aku mekarkan bunga di tengah prahara memainkan indah melodi rasa di padang rindu dan perjumpaan mengusah peluh getar sukma […]

layar hati

Panji: demaga pertemuan mendayu kenangan simak rembulan menyapa memanggil dahaga sebuah sosok rasa kudengar deburan ombak memanggilku sepi agar aku mengayun bersamanya menjelajahi luasnya hati, takdir, dan perpisahan Kirana: kekasih, apakah perpisahan itu jika tidak untuk pertemuan? lingkaran gelora, pertautan sukma meniup layar masa depan dan lalu, sekarang siapa yang menunggu saat ragu dan haru […]

malam, jangan kau menangis

mencintai laksana biru menggelora dasar samudera mendera kasih, mengikat pedih malam, kau berbisik padaku dalam tidur menangis menahan beban matahari dan awan menerpa hamparan padang pasir berkelana mencari oase kidung perjalanan dan harapan malam, janganlah kau menggores luka di hatimu amarah dendam dan kecewa bukanlah kesalahan dambamu ingin mengungkap sebab kekosongan bagai senja melukis semburat […]