You Jump, I Jump

Beberapa hari yang lalu, saya, diiming-imingi segepok foto dan sejumput mabuk malam, akhirnya setuju menemani teman saya dengan gandengan barunya. Sebut saja nama teman saya Lidi, dan pacarnya Ludo. Kencan kesekian kalinya setelah melewati periode ragu, nggerundel, dan tebak-tebakan. Walaupun harus siap-siap jadi nyamuk, godaannya (baca: foto dan mabuk) terlalu besar. Maka, berangkatlah saya menuju tempat hangout di jantung ibukota yang (ngakunya) lifestyle center.

Lovebirds flying, flocking, singing in the sky, never weary.

Ludo: “Mau di mana?”

Lidi: “Terserah, aku ikut aja.”

Lidi (ke saya): “Mending biar dia yang ngatur. Soalnya dia yang rempong. Kita tahu beres aja.”

Saya (mengangguk): “Setuju.”

Akhirnya kami duduk di sebuah lounge di tepi jendela, menikmati lanskap lalu lintas Jakarta, ditemani segelas mojito beer, wine, dan secangkir teh untuk teman saya yang sakit perut. Awal-awalnya, pembicaraan dibuka dengan sesi curhat. Sudah pasti topiknya tentang saya. Kalau teman saya yang curhat, ada pacarnya. Kurang asik. Yang begitu itu biarlah jadi pembicaraan kami di kamar mandi. What’s in Bali stays in Bali. What’s in the ladies room, stays there, until further notice. 🙂 Bisa saja sih, mereka berdua yang curhat, but then again I’m not a marriage consultant. On that part, I suck like everybody else. There you go.

Ludo: Apa hal yang paling kamu takutkan? What’s your biggest fear?

Lidi: Hah? He’s being so serious again. Ya udah, kamu dulu aja.

Ludo: Kecoak.

Lidi: Gubraks.

Ludo: Iya, kalau tikus, cicak, gak papa. Tapi kalau kecoak, hiy, aku bisa kabur.

Lidi: Kupikir apa yang serius.

Ludo: Jadi kalau ada tikus, cicak, aku yang usir. Kalau kecoak, kamu ya.

Lidi (making funny face): Aaaahhh dia lucu banget yaaa….

VOICE OVER (me in my head almost choked): Seeing a future of marriage life.

Ludo (ke saya): So apa ketakutan terbesar kamu?

Saya (spontan): Komitmen

Ludo: Kamu takut komitmennya atau takut putusnya?

Saya (berpikir): Hm…. Putusnya mungkin. Pas harus ngelepas, itu yang berat. Gimana nerimanya. When we welcome someone, we have to be ready also to let go. When we say hi, we must be ready to say goodbye.

Lidi (bengong, and yes dear, your face was so funny :D)

Ludo: That’s right. Itu gak bisa dilepasin. It comes in one package. Walaupun begitu, putus itu bukan sesuatu yang harus dipersiapin dari jauh-jauh hari kan, soalnya kalau begitu, nanti jatuhnya itung-itungan, gak tulus lagi.

Saya: Yah… Begitulah

Ludo: How do you define love? What does love mean to you?

Lidi (cengok, menggeleng-geleng)

Saya: Aduh berat banget pertanyaannya. Hm… I guess… hm… (damned, susah banget!) At the end of the day, after working in the office, while sipping my tea or coffee on weekends, I do feel something’s missing. Maybe that part is love. Aku kangen momen-momen jatuh cinta, think about the person I love, call him just to say I love you, etc. Aku kangen romansanya, tapi sebenarnya yang paling mendasar, I do miss love.

Ludo: Do you agree that love is precious?

Saya: Yes, I do. Bahkan kupikir orang-orang melakukan sesuatu karena ingin mencari cinta. Love is the ulterior motive. It doesn’t have to be love between men and women, but love in general, friendship, parenthood, etc.

Lidi (bengong): So…?

Saya: You jump.

Ludo: Yup, just experience that. Jump! Kalau kamu menyerah sama rasa takut kamu, bukan cuma kehilangan momen, tapi kamu kehilangan hidup. You’ll miss life.

Tiba-tiba saya teringat sebuah dialog di film yang dulu saya sumpah-sumpahi cheesy kelas berat. Ternyata, film yang dilansir sebagai salah satu film sepanjang masa ini punya makna yang ingin ditawarkan, makna universal mendasar namun sering dilecehkan oleh seorang skeptis dan sarkastik seperti saya.

Jack: No, let me try and get this out. You’re ama- I’m not an idiot, I know how the world works. I’ve got ten bucks in my pocket, I have no-nothing to offer you and I know that. I understand. But I’m too involved now. You jump, I jump remember? I can’t turn away without knowing you’ll be all right… That’s all I want.
(Titanic, 1997)

Setelah itu, saya ‘dimarahi’ kecil-kecilan oleh Lidi di ladies room. Tersipu malu tapi sok marah, it’s so you, Lidi. 😀 Saya cuma bisa nyengir dan menjawab, “That’s the conversation over alcohol, and not tea.” Saya ingat sekali wajah teman saya yang cengok, merah biru ungu. Buru-buru saya ambil langkah seribu, menyelamatkan diri. But you still love me, don’t you dear? 😀

Posted also in Ngerumpi

4 Comments

  1. hahahahahahahah akayaknya gw tau nih…. wakakakakakakakakakakak barusan curhat juga tadi malem wakakakakakakakakakakakakaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s