Peace, Love, and Rock ‘N Roll

*Jun 25 - 00:05*

Sudah genap dua minggu, saya kembali menjadi budak kapitalis, demi meraup sesuap nasi dan kalau bisa, sepasang sepatu Louboutin dan segepok tiket keliling dunia. Hari pertama, saya lalui dengan santai-santai saja, mengenal lingkungan kantor, menghafal nama rekan-rekan di sana, berusaha mengendus gosip-gosip insider, mencatat orang-orang kunci yang harus saya sambangi kalau saya butuh ini itu. Saya juga mengukur waktu perjalanan, dengan rute A, rute B, angkutan umum ini itu. Alasannya demi kepraktisan saja, tidak pakai lama-lama di jalan, dan tentu saja tidak pakai bete.

Hari kedua, dimulai dengan membantu assignment seorang rekan, mewawancarai remaja SMP dan SMA, soal lagu-lagu favorit mereka. Selain melatih kembali level kenekadan dan keahlian wawancara, sekalian saya mengecek dan meng-update info musik-musik yang paling gres. Kesimpulannya, selera musik saya ternyata sangat in the vintage closet. Dari mereka, saya baru tahu ternyata ada genre pop punk di musik Indonesia yang sekarang sedang dirajai oleh Pee Wee Gaskins. Tak mau kalah, pulang ke rumah, saya langsung buka youtube dan ternyata lagu-lagunya boleh juga.

Ngomong-ngomong soal lagu, saya sendiri bingung pada saat ditanya orang suka musik seperti apa. Buat saya, selera musik itu tergantung mood, tergantung episode hidup yang sedang dijalani, dan memori yang melambai-lambai di jalan kenangan. Kalau lagi musim hujan dan ingin menye-menye tanpa terjebak jadi soap opera-ish, saya memilih untuk ditemani merdu suara malaikat Feist dan Emiliana Torrini, The Cure kalau ingin sentuhan yang lebih maskulin. Cuaca panas, Jack Johnson. Ingin memperbaiki mood yang malas, saya abuse track-track-nya Franz Ferdinand, Suede dan Pulp. Untuk menemani saya bekerja, saya menjagokan The Verve dan Charlatans. Saat berimajinasi, saya memilih The Beatles dan The Postal Service. Ketika sedang marah dan sinis, saya pilih Placebo dan Nirvana.

Ternyata musik ada di setiap aspek kehidupan saya. Musik menggambarkan tema saya, walaupun saya hanya jadi pendengar. Banyaknya genre musik menunjukkan betapa beragamnya tema hidup manusia, dan memberikan sedikit kelegaan bahwa ternyata ada orang yang sedikit banyak mampu menggambarkan beberapa bagian dari saya dan ada juga orang yang mempunyai perasaan, aspirasi, kisah hidup yang mirip dengan saya. Beribu-ribu fans berkumpul, disatukan oleh musik, oleh empati yang ditawarkan oleh pemusik lewat karyanya. Melalui hal ini, suatu hubungan batin terjadi antara pembuat karya dan penggemarnya. Maka, saya tidak heran ketika ada orang yang depresi berat ketika Michael Jackson meninggal. Rasanya seperti kehilangan seorang sahabat.

But you are not alone, for I am here with you
Though we’re far apart, you’re always in my heart

(Michael Jackson)

Walau saya bukan fans mampus Michael Jackson, rasanya ada sedikit kesedihan menyelusup dalam hati saya. Setidaknya lagu Michael Jackson menemani masa remaja saya. Saya sempat mengagumi moonwalk, berjoget diiringi lagu “Black or White, duduk menonton video klip “Earth Song” sambil mengamati cuaca yang memanas, sibuk menghafalkan “Heal The World” yang membuat hati saya damai, menangis mendengarkan “You are not Alone” di masa-masa labil saya, dan sebagainya. Mantan dosen saya, seorang Michael Jackson mania, tampaknya cukup berduka mendengar idolanya meninggal. Masa mudanya ditemani oleh lantunan The King of Pop. Ia dan teman-temannya mengadakan acara “Tribute to MJ” pada hari ulang tahun MJ tahun ini. Membacakan riwayat MJ, tampak di wajahnya segurat nostalgia masa mudanya bersama MJ. Saya tidak tahu apakah ia sempat ketemu MJ secara langsung, namun paling tidak saya bisa menyimpulkan bahwa kenangan telah mengikat suatu pertautan tersendiri antara dirinya dengan MJ. Lagu-lagu MJ adalah tema masa mudanya. Sedikit maklum, sebab saat masa mudanya itu berbarengan dengan masa kejayaan MJ di blantika musik internasional.

Namun saya kaget sekaligus takjub, saat mewawancara dua orang anak SMP, nama Michael Jackson meluncur dari mulut mereka. Dengan berbinar-binar, mereka menceritakan lagu-lagu MJ yang menjadi favorit mereka. Rupanya orangtua mereka sering memutarkan lagu-lagu MJ untuk mereka dan mereka pun jatuh cinta. Saya pikir, betapa ajaib sebuah penciptaan. Ketika umur manusia itu habis, tidaklah begitu dengan karyanya. Begitu sebuah karya diciptakan dari segenap hati, ia akan menyentuh hati si penikmat karya itu pula. Dalam hidup yang serba mekanistis ini, apalah yang lebih dirindukan daripada suatu hal yang mampu mengingatkan kita bahwa kita manusia, dari daging, dari darah, dari tanah, dan juga dari rasa Tuhan. Oleh karena itu, sesuatu yang mendorong pencapaian rasa akan selalu dikenang, selalu dicari, dan tak pernah dilupakan. Bukanlah egoistis diri yang diagungkan, melainkan hati yang digugah oleh lantunannya, betapa banyak hati yang disatukan olehnya. Maka saya rasa ungkapan ini walaupun sering di-abuse secara berlebihan, tidak akan pernah basi: peace, love, and rock ‘n roll!

image, courtesy of assets.nydailynews.com

Posted also in Ngerumpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s