2 1/2

Suatu senja di kota yang tak pernah tidur dan penuh jeritan-jeritan artifisial tanpa mengenal arti keindahan sebentuk jujur, aku bertemu dengan seorang laki-laki di persimpangan jalan di bawah tenda kemesraan semu dalam keramaian dan kebisuan dalam hingar-bingar orang-orang yang mabuk kesenangan dan tertawa dalam pelariannya dari dunia. Pertemuan yang sedikit absurd, tanpa perkenalan dalam batas kewajaran. Aku tahu namanya dari sebuah surat kabar di daerahku, namun ia tak tahu namaku dan tampak tak mau tahu. Ketika kutawarkan sebuah kartu nama di atas pita suaraku, ia menggeleng dan katanya, ia lebih percaya pada waktu yang akan membuka semua rahasia satu per satu.

Senja tidak pernah selamanya senja, selalu ada waktu untuk malam. Malam tidak pernah terlalu hitam. Malam selalu transparan, bisa dirasa dan dipikirkan. Namun malam sedikit banyak menekan. Ketika kecemasan menyergap, akankah aku bisa merasa dan berpikir? Aku tak tahu. Saat itulah aku bertemu lagi dengan laki-laki yang kukenal di pinggir sebuah senja merah keemasan. Ketika bertemu dengannya untuk pertama kali, aku melihat tubuhnya merah keemasan dan matanya menyala bagaikan api Dewi Agni, berkobar dengan nyala keemasan. Kupikir ia hanya tersepuh cahaya senja dan akan tanggal seiring dengan kepergian senja. Ternyata tubuhnya memang merah keemasan dan matanya menyala bagaikan api Dewi Agni, berkobar dengan nyala keemasan. Sekejap aku melihat elang di atas punggungnya, lalu menghilang di balik matanya.

Kita memang tidak pernah tahu sebuah pertemuan berujung pada sebuah awal perjalanan baru yang akan ditempuh, kita tidak pernah tahu dengan pasti bagaimana waktu menggiring kita dari suatu kejadian ke kejadian lainnya. Demikian pula aku tidak tahu pertemuanku dengan seorang laki-laki di pinggir senja akan membawaku ke sebuah perjalanan, sebuah pengalaman baru. Walaupun aku tidak tahu, aku masih bisa merasa dan berpikir di tengah malam yang sebenarnya tidak terlalu hitam, dengan merah keemasan tubuhnya dan nyala api Dewi Agni yang keemasan di sepasang bola matanya.

Dan ternyata ia tahu namaku. Memang seiring dengan keramahan waktu, ia tahu namaku yang sebenarnya tertera di dalam batinku, bukan hanya nama di atas sebuah kertas. Memang kita selalu membutuhkan nama di atas sebuah kertas sebagai tanda partisipasi legitimasi eksistensi kita, namun kita tak pernah bisa memungkiri bahwa nama kita yang sebenarnya ada dalam diri kita, dalam hati kita tersembunyi di dalam eksistensi kita yang terdalam. Dan ia mengenalku. Namun ternyata aku belum mengenalnya. Dan memang seiring dengan keramahan waktu, aku tahu namanya yang sebenarnya tertera di dalam batinku, bukan hanya nama di atas sebuah kertas.

Walaupun waktu mengubah wajah perjalanan hidup, waktu belum bisa mengubah tubuhnya yang merah keemasan dan matanya yang menyala bagaikan api Dewi Agni, berkobar dengan nyala keemasan. Namun sedikit banyak waktu telah mengubah malam hingga malam tidak lagi benar-benar hitam. Ada kalanya kebocoran alam, ketika di tengah malam untuk beberapa menit kembali ke senja dan pernah juga sampai kembali ke pagi dimana matahari mulai terbit dan bertakhta di langit di atas bumi, setelah pertemuanku dengannya di pinggir sebuah senja, setelah perkenalanku dengannya di malam yang tampak hitam.

Betapa ajaib sebuah perkenalan membawa kita ke dunia baru. Dan aku mengenalnya di pinggir sebuah senja. Waktu terus-menerus ciptakan dunia baru untuk kita semua, sahabatku. Aku berterima kasih pada Tuhan karena waktuNya telah membawaku ke sebuah perkenalan yang indah dan akan selalu indah. Sekarang sang waktu merayakan persahabatannya denganmu sejak kau dilahirkan dan membawa nyala api keemasan di dunia. Begitu pula aku, sahabatku. Aku berdoa semoga jiwamu selalu bersinar tak lekang oleh waktu yang selalu berubah. Selamat ulang tahun, Mas Hardman!

Note: tulisan ini kudedikasikan untuk seorang sahabat di hari ulang tahunnya, kuabadikan agar jejak sekeping hati ini takkan pernah lekang

Jakarta, 4 Juni 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s