potret siapa yang waras

kadang kau melinting surga
kadang aku pun menari
kadang ia menangis
satu dua kali ia lari berjumpalitan

lama aku meniup
lama aku menjura pada satu masa yang hilang
lama kau menghimpun luka
lama ia mengasap rindu

kadang pun kupikir
kita adalah manusia kadang-kadang
yang sekali-kali menjadi sinting
dan jarang-jarang waras

pantas saja kemarin kulihat mereka menghapus kaca jendela
setiap kali kita lewat di depan rumah mereka
mungkin mereka tidak pernah berandai
jika mata mereka yang terhapus karena jendela baret-baret

kau biasa tertawa meringis
aku melongo
ia bersiul-siul

kita memang orang gila
tapi bukan kumpulan yang terbuang
sebab diam-diam kita menyuntikkan nafsu kabur
pada mereka yang sibuk menggosok meja

biasanya mereka bengong-bengong
mungkin menunggu lalat yang bikin mereka sadar
kalau mereka paling terkontaminasi
oleh zat-zat kenormaan

sampai-sampai mereka membangun perahu
namun tidak sadar kalau desainnya keliru
dan saat mereka mengumbar janji
hendak melaut seperti Sinbad
air laut tertawa dan mengkhianati senyum mereka

lama kupikir
siapa yang benar
lalu kau bilang
semakin dipikir semakin sinting
sebab bukan itu pertanyaan yang harus dijadi nyata
lalu kutanya, “kemudian apakah?”

namun ia yang menggaruk kepala
yang paling melongo
dan ia pula yang menjawab
dengan pertanyaan baru
“apa itu cinta?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s