Hidup pun Menyapa

Gadis itu datang ke rumahnya dan rumah itu melaju ke barat, meninggalkan gadis itu sendiri di perempatan ibu kota.  Gadis itu bingung. Tolong ada di kota seberang. Keruwetan ibukota tiada menjaja tolong di perempatan jalan.  Gadis itu bertanya pada orang-orang yang sedang duduk dan bercengkerama di sana, “Apa kalian mau memberi tolong pada saya? Saya sedikit mendengar pembicaraan kalian dan sepertinya kalian datang dari kota sebelah. Apa kalian punya tolong untuk saya?’

Mereka langsung diam dan menatap gadis itu, bertanya-tanya apakah sang gadis telah kehilangan akalnya atau tidak punya akal sedari lahir. Kemudian salah satu dari mereka menghampiri gadis itu dan bertanya, “Apa yang bisa kau berikan untuk saya? Di sini tolong terlalu mahal harganya dan kami cuma punya satu tolong tersisa.”

Gadis itu berbalik menatap mata orang itu dalam-dalam, seakan mencari jawab di balik matanya. Ia menghela napas. Pikirannya kembali pada masa-masa ia masih bersama kekasihnya. Kekasihnya yang selalu memberi tolong padanya dengan cuma-cuma dan kasih di antara mereka selalu berbalasan. Tidak ada perhitungan untung rugi.  Tiga bulan yang lalu, sang kekasih pergi berburu di hutan menjulang dengan jendela-jendela mengkilat dan dari jauh terlihat seperti foto Presiden Burung-Burung. Sang kekasih bilang padanya hendak membawa tiga puluh juta kayu untuk dibangunkan rumah dan empat puluh lima juta tinja untuk membeli tolong yang banyak.

Sebulan pertama semenjak kepergian kekasihnya, gadis itu bersurat-surat cinta dengan kekasihnya, merangkai not-not harapan, dan menyusun musik masa depan. Semuanya terasa manis dan damai. Setiap hari ia berangan-angan tentang kepulangan kekasihnya, apa yang akan ia kenakan, apa yang akan ia katakan, dan mereka akan berpelukan. Akhir yang pantas untuk sebuah dongeng.

Namun dua bulan terakhir ini, sang gadis tidak menerima kabar lagi dari kekasihnya. Kabar burung mengatakan bahwa kekasihnya mati dimakan burung-burung. Sang gadis tetap mengirim surat setiap minggu sampai suatu hari, kemarin, sang gadis menerima surat yang isinya,

Kekasih anda mati dimakan burung-burung.

Tertanda,

Presiden Burung-Burung

Gadis itu menghela napas sekali lagi.

Ia berkata pada orang itu, “saya punya harga diri, harapan, dan doa. Yang bisa saya berikan untuk anda adalah harapan dan doa.”

Orang itu menjawab, “Baiklah. Saya rasa itu cukup. Tapi saya tidak tahu apa yang anda butuhkan. ”

Gadis itu bergumam, “saya butuh untuk tidak bingung.”

“Apa yang anda bilang barusan?”

Gadis itu diam lagi. Ia tidak tahu apa yang menahan dirinya. Ketika ada orang yang mau memberi tolong padanya, ia bingung ia mau tolong jenis apa. Ia memandang ke langit, berharap ada yang berbisik padanya. Ia berkata dalam hatinya, “Malaikat, kalau kau mau buktikan kau ada, sekaranglah saatnya.” Tapi tidak ada suatu apapun yang terjadi. Tidak ada suara. “Ternyata cuma ada saya sendiri,” ia berkata dalam hati. Ia pun menghela napas lagi.

“Saya perhatikan napas anda berat sekali. Apa anda merasa kecewa dengan diri anda?”

“Kecewa? Saya tidak kecewa dengan diri saya.”

“Tidak mungkin. Ketika orang menghela napas satu kali, ia mungkin sedang merasa susah namun ia masih percaya bahwa masalah itu masih bisa diselesaikan. Dua kali, menyadari masalahnya lebih berat dari apa yang dipikirkannya, ragu-ragu namun ia masih berusaha untuk mencari jalan keluar. Tiga kali, mulai yakin bahwa ia tidak mampu dan menyalahkan diri sendiri karenanya.”

Orang itu menatap mata gadis itu dalam-dalam. Merasa bahwa isi hatinya hendak ditelanjangi, gadis itu menunduk ke bawah, menengok ke kanan dan kiri, menengadah ke atas, berusaha untuk memfokuskan pikirannya pada hitamnya langit, dan pura-pura tidak menyadari tatapan orang itu. Orang itu berkata lagi, “Apa yang sebenarnya kamu cari?”

Mendengarnya, sang gadis tersentak. Ia berpura-pura lengannya digigit nyamuk dan ia menepuk-nepuk lengannya. Ia menunduk ke  bawah. Menggerak-gerakkan kakinya ke kiri dan ke kanan, menjejak-jejakkan kakinya sampai -sampai sepatunya coklat karena tanah. Pertanyaan itu terngiang-ngiang dalam kepalanya. Ia tidak menjawab namun ia merasa bahwa orang itu butuh jawaban segera. Kesunyian pembicaraan ini sungguh menyiksa. Ia harus segera mengatakan sesuatu. Tapi apa? Pikirannya kosong. Bukan, bukan kosong. Pikirannya begitu kalut sehingga ia tidak bisa menguraikan perpindahan informasi apa yang terjadi di sel-sel otaknya. Kepalanya panas, jantungnya berdegup kencang. Tangannya mulai berkeringat. Matanya mulai kabur. Ia merasa begitu rapuh. Akan tetapi, ia tidak mau membiarkan orang asing itu membaca hatinya dan ia mulai berpura-pura seakan-akan kepalanya gatal dan ia punya dorongan yang kuat untuk terus menggaruknya.

Laki-laki itu diam memperhatikan gadis itu. Ia sengaja tidak berkata apa-apa dan  membiarkan gadis itu merasa tersiksa dengan sunyi dirinya. Ia menunggu gadis itu untuk memberikan jawabannya. Jawaban yang terjujur ketika gadis itu kehabisan akal untuk berkelit. Ia memberikan waktu pada gadis itu untuk mempertimbangkan segala sesuatunya.  Saat gadis itu menggaruk kepalanya terus menerus, laki-laki itu kembali ke teman-temannya dan meneruskan obrolan mereka.

Gadis itu panik ketika laki-laki itu meninggalkannya. Ia langsung menyalahkan dirinya, “Saya telah mengecewakan satu-satunya orang yang mau memberi tolong pada saya. Bodoh! Kenapa saya tidak jawab saja pertanyaannya. Setidaknya dia merasa dihargai.” Namun gadis itu tidak tahan dengan rasa bersalahnya. Ia langsung mendatangi laki-laki tersebut dan bertanya, “Kenapa kamu pergi padahal saya belum menjawab?” Rasa bersalah dalam diri gadis itu makin kuat, dan gadis itu berteriak, “Apa kamu cuma main-main dengan saya?” Laki-laki itu pura-pura tidak mendengarnya dan meneruskan obrolannya dengan temannya. Ia membicarakan tentang kapal laut yang sedang dirancangnya kalau-kalau laut-laut mendidih, pulau-pulau di bumi lenyap terbakar dan manusia cuma bisa hidup di atas kapal laut yang tentunya tahan panas. Temannya tertawa mendengarnya dan menyuruhnya untuk kembali ke kehidupan nyata.

“Kejadian itu cuma mungkin di film. Bermimpi boleh tapi kamu jangan sampai tertelan oleh mimpi.”

“Justru kamu tidak akan mengatakan itu kalau kamu berpikir rasional.”

“Apa maksudmu?”

“Maksud saya ya maksud saya. Saya sudah terangkan maksud saya, tinggal bagaimana kamu berusaha untuk mengartikan kata-kata saya. Tidak semuanya harus dijawab orang lain. Kamu harus bertanya dulu pada diri sendiri sebelum kamu menilai orang lain.”

Gadis itu tersentak dan rasa bersalah berubah menjadi rasa malu pada diri sendiri. Ia menggenggam ujung bajunya erat-erat, memandang ke sepatunya, dan mundur beberapa langkah. Laki-laki itu menengok ke arah sang gadis, menatapnya sambil tersenyum. Tapi gadis itu berlari, pergi meninggalkan mereka.

Degup jantungnya menyuruhnya berlari. Ia berlari terus, ia tidak mempedulikan apa saja yang ia lewati, pandangan orang-orang, angin yang semakin kencang, hujan yang turun rintik-rintik, petir yang menyambar-nyambar. Ia tidak peduli tubuhnya basah. Ia menutup inderanya. Ia melihat namun tidak melihat. Ia mendengar namun tidak mendengar. Ia merasa namun tidak merasa. Lidahnya terasa pahit namun ia tidak peduli.

Ia terus berlari  sampai ia sampai ke sebuah kolong jembatan yang kosong, jembatan dimana ia bertemu dengan kekasihnya dulu, mencoret-coret dan mengukir nama dalam hati masing-masing. Ia memandang ke sekelilingnya, memeriksa apakah semuanya sama seperti dulu, ia ingin tahu apakah jejak-jejak kebersamaan mereka masih ada, apa kekasihnya pernah ke sini dan menuliskan pesan tersembunyi untuk dirinya sebelum ia meninggal. Namun semuanya terasa gelap.

Ia kelelahan dan ia tidak peduli ke mana tubuhnya harus mendarat. Ia ingin percaya bahwa tempat ini akan melindunginya seperti kekasihnya dulu. Ia merebahkan dirinya dan menutup matanya. Saat ia bersiap-siap meleburkan diri dalam gelap, ia mendengar bunyi sirene dan motor-motor menderu-deru. Lima belas motor besar merah hitam, lima di depan, empat di tengah, dan enam di belakang. Pawai Presiden Burung-Burung, gumamnya.

Penuh amarah, tanpa peduli lelah, ia mengumpulkan batu-batu yang ada di sekitarnya dan menaruhnya di kantongnya.  Kemudian ia melihat dari jauh limosin hitam mulai mendekat, dan ia segera merogoh batu-batu di celananya. Ketika mobil limosin hitam itu hampir mendekat, tubuhnya, hatinya, dan kepalanya terasa panas. Rasa sakit dan kebencian menggelegak di ujung lehernya. Tangannya terasa kencang. Ia bersiap-siap untuk melempar. Ia tahu bahwa ia mungkin mati dan tidak peduli karena hidupnya telah tercerabut sejak kekasihnya mati.

Namun saat mobil itu melintas di depan matanya, tiba-tiba semuanya terasa dingin, tubuhnya kaku seperti tertancap di tanah, aliran darah berhenti, mulut kering, telinga berdengung. Badai bergejolak dalam kepalanya, ketika ia melihat  orang yang duduk jok belakang limosin itu. Kekasihnya, Presiden Burung-Burung.

Catatan: Presiden Burung-Burung merupakan salah satu judul pementasan Teater Koma. Saya pinjam “judul” ini karena saya tidak menemukan ekspresi lain yang lebih sesuai untuk konteks yang dimaksudkan.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s