"Yang Fana Adalah Waktu"

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?.”
tanyamu. Kita abadi.

(Sapardi Djoko Damono, “Yang Fana Adalah Waktu”, 1978)

Sejak kecil, ibu saya mengajarkan saya untuk disiplin dengan waktu. Segalanya harus tepat waktu. Bahkan lebih sering bukan tepat, tapi sebelum waktu. Kalau tidak sampai di tempat tujuan 30 menit sebelum waktu pertemuan, dia akan panik dan berusaha untuk menganalisis kenapa bisa begitu. Kalau orang yang berjanji tidak sebelum-waktu apalagi tidak tepat waktu, dia akan bertanya terus menerus. Waktu itu, tidak ada telepon dan akhirnya yang bersama dengan ibu saya yang harus menghadapi panik dirinya, bertanya-tanya kapan tibanya, berjalan bolak-balik, duduk, membenarkan posisi duduk, menengok kanan kiri, berdiri, bertanya-tanya lagi, berjalan bolak-balik, bertanya-tanya lagi. Saya, masih kecil, ikut ibu saya secara otomatis walaupun ibu saya tidak memberi sanksi yang gimana-gimana kalau saya terlambat. Cukup omelan saja dan melihat dia panik sudah membuat saya orang jadi anak yang sangat sebelum-waktu. Waktu buat saya keramat. Kalau dilanggar, saya merasa bersalah dan rasa bersalah itu membuat saya tidak tenang, kepikiran terus.

Masuk sekolah menengah, kebiasaan saya ini ternyata membawa untung karena sekolah menengah yang saya masuki sekolah yang dibina oleh para suster. Segala sesuatu harus sesuai aturan. Tidak ada maaf untuk yang kaos kakinya di bawah lutut, tidak ada maaf untuk rok yang panjangnya kurang dari 10 cm di bawah lutut, dan tentunya tidak ada toleransi untuk terlambat. Saya yang tidak menoleransi diri kalau mengkhianati waktu, merasa tidak punya beban tambahan.

Masuk kuliah, longgar. Kuliah masa-masa bebas buat saya. Semuanya serba longgar. Walaupun ada aturan tertulis, buat saya itu tidak masuk aturan karena tidak ada sanksi yang berat untuk pelanggaran. Yang penting tidak berusaha bunuh apapun, termasuk bunuh diri. Merokok yang bukan-bukan dan minum yang tidak halal juga tidak apa-apa, walaupun dilarang di aturan tertulis, yang penting bisa melobi satpam. Semuanya serba asal tidak ketahuan, semuanya kebanyakan negosiasi. Negosiasi waktu, salah satunya. Saya janjian dengan teman kuliah saya jam sekian, mereka baru muncul 1 jam setelahnya, sementara saya 30 menit sebelumnya. Awal-awalnya saya merasa jengkel, merasa dibohongi dan tidak dihormati. Tapi lama-lama saya juga malas menunggu. Jadi saya juga baru datang satu jam setelahnya. Triknya, siap-siapnya justru pas waktu janjian, jadi sampai di tempat, satu jam setelahnya. Lama-lama saya terbiasa begitu, kecuali untuk urusan pekerjaan. Setiap janjian dengan teman saya, saya biasa terlambat dan teman saya juga. Tidak ada yang rugi. Sudah jadi aturan tak tertulis, kalau ketemu teman untuk urusan senang-senang, waktu ketemuan yang bener satu jam setelahnya.

Efeknya buat saya? Saya jadi lebih santai, lebih menikmati momen. Saya yang tadinya membuat diri saya hanya diatur oleh waktu, sekarang saya buat waktu yang mengikuti saya. Saya tidak lagi menghitung waktu makan. Saya makan lebih pelan dan bisa duduk di restoran atau cafe selama berjam-jam, sementara saya sebelumnya kalau habis makan, ya langsung pergi. Hidup saya tidak berpacu terus dengan waktu. Waktu yang berpacu dengan saya.

Menjalani semuanya dengan lebih lambat bukan berarti malas. Makan dengan lebih lambat membuat saya memperhatikan apa saja yang masuk ke mulut saya. Rasa enak dari makanan saya dari bahan apa saja, misalnya. Apa yang membuat rasa manis ini begitu pas, dan sebagainya. Saya bisa tahu berapa jumlah tahi lalat di wajah teman saya. Saya bisa mereka cerita di balik mata orang-orang yang saya temui, apa mereka berdua sedang pedekate atau sudah resmi jadian, apa si laki-laki bertepuk sebelah tangan, dan sebagainya. Saya bisa mencium bau hujan, mendengar bunyi-bunyi air jatuh ke tanah, merasakan udara yang mendingin di kulit saya. Saya bisa berpikir tentang asal muasal manusia, kemungkinan kehidupan lain selain bumi, bagaimana kita bisa mengalami sesuatu, bagaimana posisi saya dalam hidup saya, bagaimana saya memaknai hidup saya sendiri. Menjalani hidup dengan sadar.

Begitu banyak hal yang saya lewatkan ketika saya sibuk memburu waktu. Begitu banyak keindahan yang tidak terasakan oleh saya. Betapa sering saya luput dari kerlingan hidup. Kesempatan-kesempatan yang tidak datang dua kali. Walaupun esok harinya, saya temui lagi kesempatan yang mirip, kesempatan itu tidak pernah sama, seperti kembar identik yang tidak pernah sungguh-sungguh identik.

Hidup ini bukan karena waktu. Waktu ada karena hidup, pada saat kita maknai dengan kenangan, memori, dengan hati. Tanggal 26 Agustus hanya akan jadi tanggal 26 Agustus kalau saya tidak jatuh cinta pada hari itu. Tanggal 25 Oktober hanya akan jadi tanggal 25 Oktober kalau saya tidak sadar bahwa hidup memberikan saya seorang adik yang mau memahami dan mendukung saya. Tanggal 11 Desember juga tidak akan berarti apabila saya tidak menyadari bahwa kehadiran saya di dunia ini membawa bahagia dan harapan untuk keluarga saya. Kenangan ada karena kita berpikir, merasakan, dan hidup dengan sadar, seperti kata Sapardi Djoko Damono, “Kita abadi.”


image, courtesy of http://www.satriani.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s