Marah Terus, Dicolong Terus


image,courtesy of antarafoto.com

Perkara curi-mencuri budaya sudah bukan perkara asing. Sudah sering budaya kita diaku-aku punya negara lain. Beberapa motif batik kita dipatenkan negara lain, lagu-lagu daerah, beberapa motif ukir kayu juga pernah diaku punya negara lain. Seringkali negara kita kecolongan. Seringkali kita marah. Seringkali kita ngata-ngatai negara lain yang tukang colong dan ejekannya lebih sering lagi moncrotnya ke soal-soal lain yang tidak relevan.

Saya coba himpun beberapa komentar soal Tari Pendet ini di twitter saya.

“Tari pendet diklaim lagi sebagai tarian asal malaysia,what?now Bali has moved itself to M*******??”

“From young age, Balinese children learn how to dance Pendet..so they become expert in it..Come to Bali and Prove it. “

“Once a thief, always gonna be a thief. Just saw malingsia travel show and they put wayang in it. Curse you fugly people!”

“Dear M*******, you give us terrorist and try to steal our culture? shame on you”

“M*******, stop claiming something not yours. Just shut up&B proud of YOUR Ami Search,Exist & NoerdinMTop “

“Itu knp deh M******* ?! Kasian bgt sih, ga punya apa2 yg bisa dibanggain selain si Udin Tanktop tukang ngebom..”

Perjalanan “emosi”. Pertama-tama, kaget dan marah, karena dicolong terus. Area marahnya masih soal Tari Pendet, tapi lama-lama mulai punya kata-kata hujatan soal maling-malingan. Lama-lama lebih naik lagi emosinya, tiba-tiba soal ancaman keamanan internasional dibawa-bawa (baca: teroris). Bisa dilihat kalau emosi, berpikir jadi butek, tidak jernih. Kalau dibawa ke pengadilan, kasusnya jadi berlapis-lapis nih. Tadinya kita jadi penuntut, lama-lama bisa duduk di kursi tersangka alias yang dituntut.

Akhirnya karena marah-marahnya dinaik-naikin emosinya, masalah yang sebenarnya bisa tidak kesentuh sama sekali. Jadinya menang-menangan kata-kataan, menang-menang hujatan.Lama-lama ini jadi main perang-perangan. Kalau orang-orang dewasa perang-perangannya pakai pistol air sih tidak apa-apa. Tapi kalau kita sadari lagi, makin dewasa, perang-perangannya makin bahaya. Pakai sakit hati, serang ego. Brutal, kalau saya bilang. Pernah dengar kata kiasan marah itu “gelap mata”? Memang jadinya kayak orang buta.

Tidak boleh marah? Ya kalau kita dicolong, kita harus marah. Marah itu benar dalam soal ini. Tapi kalau marah tidak berstrategis, marah tidak konstruktif, itu yang tidak benar. Bukannya bakar semangat buat menyelesaikan masalah, malah bakar diri sendiri dan akhirnya dicolong lagi. Marah meledak-ledak, bakar diri sendiri, colong lagi. Kalau dalam hukum perang, ini namanya tidak bikin pertahanan tapi ngomel kalau diserang. Buka kesempatan sendiri.

Back to the basic problem solving method, people. Negara kita kecolongan budaya, bukan berita baru. Sudah berkali-kali tapi kok kecolongan terus. Jangan-jangan marah-marah itu tidak bikin masalah selesai. Evaluasi ulang strategi. Masalah di negara kita, jangan-jangan adalah kurangnya konservasi budaya.

Alkisah seorang pemerhati budaya dari negara lain datang ke satu pulau Indonesia, dia mendata musik-musik tradisional di pulau itu, dan dia bawalah ke negaranya. Eh pulau itu ketiban bencana. Hampir tenggelam dan yang bisa main musik tradisionalnya sudah pada meninggal. Keturunannya sudah tidak bisa. Akhirnya si negara pendata itu klaim musik yang dikumpulkannya itu musik dari negara itu. Indonesia mau klaim. Ditanya bukti, tidak punya. Yang bisa main musik itu sudah meninggal, dan Indonesia juga tidak punya database. Melayanglah. Jadi saudara-saudara, kalau saya yang sok tahu ini coba analisis, akar masalah di soal ini, satu, tidak ada database, dua, keturunan cuma biologis, tapi tidak turun ahli, tidak ada yang nerusin keahlian musik tradisionalnya. Lebih di akar lagi, kurang peduli, kurang cinta.

Budaya itu bukan cuma buat diposesifin teman-teman, tapi untuk dirasa dan dikembangkan. Di situ banyak nilai-nilai keluhuran. Kalau sudah begini, aksi konservasi pun berjalan dengan rasa, jadi tidak kepaksa-paksa. Orang bisa lihat kita sering praktekin budayanya, jadi negara lain mau ngaku-ngaku pun, diketawain seluruh dunia. Cinta tidak cuma di mulut tapi juga di hati.

Mau marah? Ya percuma. Main salah-salahan? Tidak ada gunanya. Dua-duanya punya salah. Yang satu, salah karena main aku punya orang. Yang dua, salah karena sebelum-belumnya kurang perhatian, ketika dicolong, baru koar-koar. Kalau seperti ini terus skenarionya, saya sarankan kita baiknya mulai jaga-jaga kalau tingkat penderita darah tinggi di negara kita tercinta makin tinggi. Masih mau marah-marah saja teman-teman?

Angry words directed to insult others (read: the M) in irrelevant way, can cease another anger, rage, hatred and fight. When will it stop? Shouldn’t we focus our anger to finding ideas about how to preserve our culture?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s