Masalah Ganti Popok dan Cebok Sendiri

Hari Jumat minggu lalu, rumah saya kebanjiran. Sedengkul, masuk rumah. Baunya amis, bikin pusing, sehingga saya mau tak mau menerima tawaran tante saya untuk menginap di rumahnya. Menerjang arus air sedengkul, saya berjalan kaki ke rumah tante saya yang kompleksnya masih sama dengan saya. Bloknya banjir juga tapi tidak masuk rumah.

Tapi sialnya malamnya hujan deras. Jam 1 malam, saya yang sedang asyik-asyiknya lelap, dibangunkan dengan teriakan-teriakan panik. Beberapa menit kemudian, saya sudah ada di rumah tetangga tante saya. Rumahnya lebih tinggi dari tante saya, jadi dia tidak kebanjiran. Plus dia punya diesel. Jadi kami tidak merasakan susahnya tiada listrik dan air bersih. Rasanya bukan seperti kamp pengungsian. Kami lebih seperti kumpul ramai-ramai, yang jarang kami lakukan karena sibuk dengan urusan masing-masing.

Highlight: O L I V I A. Yang lebih dari setengah hidupnya dihabiskan di ‘jalanan’. Pulang ke rumah cuma untuk tidur. Keluarga saya sudah menyerah menyuruh saya diam di rumah. Karena saya memang tidak suka di rumah. Saya tidak terlalu suka mengobrol dengan keluarga. Seandainya saya di rumah, saya lebih asyik dengan diri sendiri, seperti menonton DVD, main internet. Keluarga saya jarang sekali makan bersama. Saya pun lebih suka makan sendiri. Saya lebih suka ngapa-ngapain sendiri. Tidak usah ribet memikirkan orang lain.

Selama banjir, saya benar-benar pusing. Ketar-ketir dengan sepatu di rumah, yang nyatanya memang tinggal sedikit (hanyut, rusak, dan sebagainya). Harus menahan rasa tidak nyaman saya, bertahan dengan banyak orang di suatu ruangan yang sama dalam waktu yang lama (empat hari). Mumet mendengar acara TV yang mengulas banjir. Khawatir dengan orang yang disayangi, takut-takut dia kebanjiran. Plus, harus menahan urat malu menginap di rumah orang yang pernah saya tolak dengan tidak manusiawi.

Kejadiannya sudah lama, ketika saya masih sekolah. Saking lamanya, saya sendiri lupa, apakah waktu itu saya berseragam putih biru atau putih abu-abu. Ya sekitar situlah. Saya lagi bertamu di rumah tante saya. Tetangga tante saya, sebut saja X, usianya kira-kira satu tahun lebih tua dari saya, datang ke rumah tante saya. Newbie di blok itu. Dia minta kenalan, karena ingin punya teman sebaya. Saya mengiyakan.

Besok-besoknya, saya main di rumah tante saya lagi karena saya waktu itu senang mengobrol dengan tante saya. Saya lebih dekat dengan tante saya daripada orangtua saya. Dari dulu. Sejak tante saya masih menumpang di rumah orangtua saya sampai ia menikah dan punya rumah sendiri. X mengajak saya menonton, The Beach. Saya mengernyitkan dahi. Buat saya yang waktu itu super konservatif, ajakan dia tidak cocok dengan frame saya. Buat saya, mengajak menonton berdua itu intimate moment. Cuma bisa dilakukan dengan orang yang sudah dekat. Sebelumnya saya mendengar dari pembantu tante saya, dia suka saya. Maka saya ambil kesimpulan, bahwa dia berteman dengan saya karena dia punya maksud. Penaklukan diri saya. Saya sangat kesal. Saya tidak suka pertemanan yang ada embel-embelnya.

Dan akhirnya, saya menolak. Saya bilang saya sudah nonton (memang saya sudah nonton di VCD), tapi dengan dingin. Tidak mau melihat ke dia. Berharap dia mengerti bahwa saya sudah memberi lampu merah pada saya. Tapi dia tidak menyerah. Dia memang tidak mengejar-ngejar saya dengan menelepon, mendatangi rumah, dan sebagainya. Sekali-kali dia menelepon, tapi tidak pernah berhasil berbicara dengan saya karena saya sudah memberitahu orang tumah bahwa saya tidak mau menerima teleponnya. Satu-satunya cara dia bertemu saya adalah pada saat saya main ke rumah tante saya. Itupun cuma pada saat saya sedang di pintu rumah tante saya. Kalau saya sudah masuk, sudah dipastikan, kalau dia mencari-cari saya, saya tidak keluar. Pada hari Valentine, saya masih diberi coklat (kalau saya tidak salah ingat). Tapi coklat itu berakhir di mulut pembantu saya yang doyan ngemil.

Kemudian saya tidak bertemu dia lagi. Saat-saat itu, saya jarang main ke rumah tante saya lagi karena sibuk dengan tugas-tugas dan kegiatan lainnya. Sampai akhirnya seminggu kemarin, saat banjir. Dia tidak banyak bicara pada saya. Saya menghindar dan tentunya diapun tahu. Dia sempat bertanya tentang kuliah saya. Namun pembicaraan tidak pernah berlanjut karena saya cuma menjawab seadanya. Dia menawarkan meminjamkan buku novel. Saya menyuruhnya untuk membaca novel itu sampai selesai, baru saya akan pinjam. Tapi saya tidak pernah benar-benar meminjamnya. Saya tidak membawa novel itu saat saya pindah lagi ke rumah tante saya (karena air sudah surut). Saya baru ingat bahwa saya pernah mengiyakan tawarannya beberapa hari kemudian.

Selama saya mengungsi di rumahnya, saya mendengar banyak cerita tentang X dari pembantunya yang tampak sudah seperti ibunya sendiri. Saya baru tahu bahwa dia anak angkat dari pemilik rumah yang baru sekitar dua minggu meninggal. Ayah angkat X membiayai persalinan ibu X. X tinggal bersama dengan orangtua kandungnya namun ia sudah mengenal ayah angkatnya. Ketika dia menginjak SMP, dia pindah ke rumah ayah angkatnya karena rumah itu lebih dekat dengan sekolahnya. Saya juga mendengar cerita mantan pacarnya yang terus merongrong. Yang suka mengatur-ngatur dan menyuruh X melakukan ini itu sambil menyumpah-nyumpahi ayah angkat X. Saya juga mendengar X suka membantu orang lain seperti ayahnya.

X menyuruh pembantunya untuk memasakkan kami apa saja yang kami inginkan. Mendengar itu, saya langsung merasa diri saya rendah. Orang yang saya perlakukan dengan tidak hormat, masih mau menampung kami dan berusaha memikirkan kebutuhan kami. Setiap pagi, dia pergi mencari solar untuk bensin walaupun dia harus melewati banjir. Dan X tidak mau menerima uang yang kami berikan. Pendek kata, di pikiran saya ‘rasain lo!’. Orang yang saya jauhi, malahan orang yang membantu saya saat kesulitan.

Kemarin saya ngobrol dengan teman saya yang super ajaib. Super jayus, tidak jelas, tapi sangat pintar dan menyenangkan. Kata-katanya panjang, saya tidak ingat persisnya. Intinya, setiap orang punya frame standar sendiri. Perilaku saya dengan maksud P, belum tentu dimaknai orang lain sebagai P. Begitu pula orang yang melakukan sesuatu dengan maksud Q, bisa saja saya tafsirkan R. Itu adalah hal yang biasa, apalagi jika kita memilih untuk keluar dari segala sesuatu yang normatif dan mau tak mau kita punya frame standar sendiri. Dengan kata lain, bisa saja saya salah menafsirkan ajakan X untuk menonton. Bisa saja saya punya penilaian yang salah tentang X.

Kalau saya menemui orang dengan standar perilaku yang berbeda dengan saya, saya punya dua pilihan ekstrim. Pertama, mengonfrontir, terus terang bahwa saya tidak nyaman dengan perilakunya. Kedua, membiarkan begitu saja selama tidak mengancam keselamatan diri. Kalau kita begitu saja menjauhi, bisa saja ada resiko yang merugikan kita. Terutama apabila orang itu mempunyai pengaruh besar terhadap kita di depannya nanti. Secara simpel, kalau saya ternyata butuh bantuan dia untuk survive, gimana? Dalam masalah pengungsian ini, masih untung X mau membantu. Kalau orang lain? Belum tentu.

Seperti yang lalu-lalu, saya diam-diam membenarkan perkataan dia (bener kata Iin: kok lo pinter banget sih?). Saya tidak bisa lagi seperti anak kecil, ‘Pokoknya gue maunya begini, harus begini!’. Orangtua tidak lagi menggantikan popok saya saat kencing di celana ataupun membersihkan tahi saya yang berceceran di lantai. Saya sendiri yang harus cebok sendiri dan berjaga-jaga agar tahi saya tetap dibuang di kloset.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s