Mari Cerahkan Diri Kita!

[COMMERCIAL BREAK]
Iklan produk pemutih. Dalam waktu empat minggu, akan tampak lebih putih (katanya). Kemudian sang model tiba jadi empat orang, dengan wajah yang sama tapi warnanya beda. Gradasi seperti kain yang di-bleach. Paling ujung, paling putih. Muka tadinya ditekuk, jadi senyum. Ditambah pula decak kagum orang-orang. Tambah sumringah dong.

[STARRING: MYSELF]
Dengan niat mau bleaching mood saya yang lumayan berantakan minggu-minggu terakhir ini, saya memaksa diri pergi ke salon nun jauh di sana. Hujan. Bodo amat! Ayah saya bingung kenapa saya harus pergi jauh-jauh hanya untuk potong rambut. Sederhana, saya tidak gampang percaya orang. Apalagi potong rambut itu saat-saat yang dramatis buat saya yang perempuan. Rambut berubah, tampilan berubah. Kalau bagus, senang. Kalau jelek, manyun karena saya harus menunggu dua tiga bulan rambut tumbuh supaya saya bisa potong rambut lagi. Dan benar saja. Mood saya langsung jadi bagus. Ketemu orang yang tadinya cuma manyun-manyun, sekarang jadi lebih ceria. Saya jadi bawel lagi sampai Bob mau lari (parah donk). Kalau udah panjang dan ada duit, nyalon lagi ah….

[ENLIGHT ME PLEASE]
The Illusionist
Gedung pertunjukan. Orang-orang menunggu. Tirai merah dibuka. Orang menghela napas. “Ladies and gentlemen, I give you Eisenheim”. Pembukaan. Saya lupa tepatnya, tapi kira-kira begini. Hidup kita akrab dengan waktu. Kita membuat batas waktu, jadwal, menjadikan waktu sebagai penanda. Tapi kita tidak pernah bisa memanipulasi waktu. Or can we? Eisenheim potong jeruk. Ambil bijinya. Taruh di atas pot. Eisenheim menaruh tangannya di atas pot. Tiba-tiba pohon jeruk tumbuh. Wow. Gemuruh tepuk tangan. Besoknya, opsir polisi, salah satu penonton, bertanya, saya pernah dan sering nonton pertunjukan semacam ini. Tapi kali ini beda. What’s your trick on that orange tree? Eisenheim: I’ll show you one of my favourite. Dia memberikan sebuah bola kecil pada opsir itu. Dia membalikkan badan. Menyuruh opsir menggenggam bola itu di salah satu tangannya kemudian menaruh tangan yang isinya bola di dahi. Tangan kembali ke posisi semula. Eisenheim balik badan. Menebak. That one. Bingo! There’s the ball. Is that a magic? Witchcraft? Nope. Ketika tangan mengenggam sesuatu dan memegang dahi, tangan itu akan lebih pucat. That’s how you do it. Orang-orang yang tidak bertanya, tidak tahu. Mengira dia penyihir. Nope. He’s merely an illusionist, penemu jenius.

[FOR I LAY MY VENGEANCE UPON YOU]
What is anger, rage, and whatsoever? Kalau kita percaya teori Darwin, marah adalah mekanisme pertahanan diri kita. Supaya kita bisa lolos seleksi alam dan hidup selama mungkin. Burung onta curiga dengan leopard yang mendekat. Marah. Tendang. It survived.

Tapi di manusia, marah tidak sesimpel itu. Manusia punya mekanisme yang berbeda. Dia punya pemikiran yang lebih kompleks, untuk tidak menyebut neko-neko. Marah di manusia bukan cuma urusan mempertahankan nyawa, tapi juga urusan harga diri, pencapaian hidup, keinginan, moralitas, dan sebagainya. Sebagai konsekuensinya, marah manusia juga hilangnya tidak secepat binatang. Manusia kenal dengan dendam. Kemarahan yang dipendam-pendam sampai akhirnya meletus. Makanya sekarang dalam dunia peradaban manusia, dua menara kembar tewas diseruduk burung besar (pesawat maksudnya).

Karena kompleks, sekali lagi ada kemungkinan terlalu ruwet. Jadi suka meleset. Ke kiri dikit, dikit lagi, tapi bisa juga melenceng jauh. Mungkin pikirnya orang lain saja yang salah, dirinya juga salah. Ini mekanisme yang wajar saja. Kalau ketemu yang tidak sesuai dengan kepinginan, pastinya merasa terancam. Supaya tidak terlalu parah, bagi-bagi sama orang lain. Bukan berarti orang lain juga gak salah lho. Bisa saja salah. Tapi maksud saya, yang menjadikan orang lain sebagai pusat masalah. Padahal validitasnya sangat diragukan. Bisa saja informasi yang diterima kurang lengkap, jadi salah paham. Bahkan bisa saja informasinya salah.

Wajar saja manusia salah paham. Konon Tuhan mengutuk manusia dengan merobohkan Babel dan mencerai beraikan manusia sehingga manusia bahasanya beda-beda. Begitu marahnya Tuhan pada manusia yang ingin menyamai Dia, sampai-sampai orang yang bahasanya sama bisa tidak mengerti apa yang dimaksud satu sama lain. Tapi akan jadi gaswat, kalau yang empunya marah tidak berusaha cari informasi lagi. Lama-lama bisa merasa tertindas. Lalu dendam.

Padahal dendam itu sebenarnya usaha menyiksa diri yang paling kejam lho. Kalau orang dendam, berarti dia menganggap dirinya korban. Jadi korban kan tidak enak. Masa perasaan yang tidak enak dipelihara terus? Jangan-jangan yang didendami hidup tentram, aman, dan nyaman. It’s not worth it, isn’t it?

Mendingan “dunia cerah dan segala keindahannya, kan kucoba semua uu uu uu” (AB Three – iklan lux jaman saya putih merah)

So…

Mari cerahkan diri kita!

(Akhir-akhir ini saya sering merogoh kulkas tengah malam. Celana saya sudah agak sempit. Mungkin saya harus diet supaya jadi lebih cerah, secara berat dan dompet)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s