cold is contagious

hatzyi. hatzYi..! HATZYIIII….!!! Kliyeng kliyeng. Saya kayaknya mulai ketularan flu. Cuma duduk di antara dua orang yang flu, kok? eH… dATENG lagi 1… “Liv, lo punya tissue gak?” “Ada, nih.” SROOOOTTTT.. Yeah yeah. Konsekuensi gaul. Susah senang ditanggung bersama. Termasuk flu. Akibatnya rencana mau jalan-jalan nomaden gagal total. Saya terjebak di rumah saya. Saya cuma bisa mengandalkan buku dan DVD. Oh ya, saya baru beli novel di Periplus lho, judulnya “Beauty in Disarray”. Ceritanya tentang cewek feminis di Jepang, namanya Noe Ito. Yah nanti saya mungkin akan ceritakan kalau saya sudah selesai baca. Hum… Dasarnya saya, lagi pusing, baca deretan huruf-huruf, tambah tewaslah saya. Akhirnya saya beralih ke DVD. Heiha. Saya buka-buka film koleksi ayah saya. “JUDGE BAO”. Lumayanlah menghibur. Cukup memberi mimpi di tengah dunia yang tidak adil.

Mata saya lumayan bengkak. Kebetulan adegannya memang mengharu biru. Pengorbanan perasaan demi keadilan. Dingin ya. Memang. Sama seperti saya yang mulai mengigil. Kepala saya mulai berputar seperti gasing. Blugh. Saya ke alam mimpi.

Di suatu tempat, serba biru, serba tak pasti. Saya melata di lantai, merangkak, memanjat-manjat dinding, menempel di langit-langit. Lalu saya pindah ke tempat lain lagi. Hitam putih. Dua patung berjongkok saling berhadapan, tangan menelungkup menutupi seluruh wajah. Saya sentuh-sentuh. Aits. Dingin. Hatzyiiii!!!

Pindah lagi. Kamar saya. Tidak istimewa. Buku berserakan di lantai. Alat make-up tersebar di atas meja. Gunting. Vitamin. Razor. Pen. Prozac. Panadol. Decolgen. Ada saya. Telanjang. Meringkuk di atas tempat tidur. Handphone di telinga kanan saya. Saya meraung-raung, meratap-ratap “Gak, gak bisa. Pergi. Pergi. Lupakan saja. Pergi.” Tissue di mana-mana. Ingus membuat jembatan antara hidung dan bantal.

Pindah lagi. Lantai berdebu. Puntung rokok di mana-mana. Telepon di lantai, dekat dinding. Seorang pria. Telanjang. Di belakangnya ada sofa biru. Memukul-mukul dinding dengan tangan terkepal. Lama-lama dengan kepalanya sendiri. “Kalau saja kau mau lebih mengerti,” ucapannya lirih. “Menyerah. Aku menyerah. Terserah kamu.” Nyamuk-nyamuk bersliweran. Darah kering di sekujur tubuh laki-laki itu. Isak tangis sayup-sayup di telepon.

Badai salju. Suara membeku. Angin. Pecah berdenting-denting.

SLAP! Saya bangun. Meringkuk di atas tempat tidur. Saya meraih tissue. Mulai menghela napas, SROOOTTT. Ibu saya masuk ke kamar saya, seperti biasa. Tanpa permisi. Mengambil baju saya di lantai. Keluar. Sekali lagi saya dengar, HATZYI!

i{content: normal !important}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s