sex – the first?

What is sex? Jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan. Itu arti secara kamus. Dalam kehidupan sehari-hari, orang mengasosiasikannya sebagai sexual activity. Menggoda, foreplay, penetrasi (kalau laki-laki dengan perempuan, atau laki-laki dengan laki-laki, atau perempuan dengan dildo dan semacamnya), orgasme. Ini yang biasa dilakukan dengan orang lain. Kalau sendiri saja? Ada yang namanya masturbasi. Bisa sampai orgasme juga.

Sex. Ditabukan oleh banyak budaya dan agama. Dianggap sebagai topik ‘kotor’. Diasosiasikan dengan dosa. Namun sex erat kaitannya dengan fungsi biologis meneruskan keturunan. Freud saja bilang sex adalah kebutuhan dasar. Setiap orang suka seks. Buktinya kebanyakan orang pasti tertawa mendengar humor seks. Sekedar catatan, menurut psikologi humor, orang tertawa mendengar lelucon yang mengangkat hal-hal yang direpresikan.

Saya pernah baca di buku Zahir karangan Paul Coelho, tentang mengapa sex ditabukan. Pada suatu masa, laki-laki dan perempuan bebas melakukan hubungan seksual. Lahirlah banyak manusia-manusia baru. Namun sumber daya alam yang ada rupanya terbatas. Keadaan ini melahirkan perseteruan, peperangan yang menghasilkan banyak korban di pihak perempuan dan anak karena mereka dianggap lebih lemah. Seorang yang dituakan, berkharisma, dianggap dekat dengan Tuhan berusaha untuk mengatasi bencana ini, dengan melakukan intervensi langsung pada sumbernya. Seks bebas = banyak manusia. Dengan alasan wejangan Tuhan, ia menabukan seks bebas dan mengharuskan seorang laki-laki harus setia dengan seorang perempuan. Dalam masyarakat, ikatan kesetiaan dimanifestasikan dalam bentuk pernikahan. Sex after marriage. Seks dilakukan dengan orang yang diyakini sebagai pasangan seumur hidup. Sex is a love devotion.

Sebagaimanapun budaya menabukan seks bebas, toh masih banyak orang yang masih tidak bisa menahan godaan seks. Banyak orang menganut seks bebas (diakui ataupun tidak) yang akhirnya menciptakan subkultur baru. Seks bebas. Dengan perkembangan arus informasi, orang terekspos dengan berbagai macam norma, termasuk yang saling bertentangan. Anak muda diajarkan oleh orangtua bahwa seks harus dilakukan setelah menikah. Namun ia juga mendengar bahwa seks boleh dilakukan sebelum menikah. Alasannya macam-macam. Salah satunya alasannya adalah kecocokan. Pernikahan adalah lembaga yang mengikat. Menuntut kesetiaan. Di dalamnya, tentunya ada seks. Bumbu cinta. Saluran penghasil anak. Lebih jauh lagi, kebutuhan dasar yang dinanti-nantikan untuk dipenuhi setelah direpresi sekian lama. Kalau tidak ada kompatibilitas dalam hal seks, tentunya pernikahan itu bagai neraka. Misalnya, suami lebih suka sodomi. Istri maunya lewat vagina. Oleh karena itu, pada masa pacaran, seks juga termasuk hal yang sebaiknya dijajaki dengan pasangan. Dan saya adalah orang yang menganut paham ini.

Banyak orang yang sudah cenderung permisif dengan sex before marriage. Ada yang menganut totalitas seks bebas, dalam arti sex is basic need. Drive utama-nya tak lain adalah nafsu. Namun masih ada yang berusaha menyeimbangkan dengan norma lama. Bahwa sex before marriage bisa dilakukan asalkan di dalamnya ada cinta. Jadi, sex bukan hanya nafsu, sex = making love.

Dilema pandangan ini terutama dialami oleh first-timer. Ragu kapan sebaiknya virginitas dilepaskan. Inilah yang saya alami saat ini. They say that your first sexual experience should be memorable. Therefore do it with someone you love. Saya pribadi bingung dengan sex driven by love. Pertama, apa yang dimaksud dengan cinta? Buat saya, cinta sangat abstrak. Apa yang dimaksud adalah kenyamanan dan rasa percaya (membiarkan benda asing masuk ataupun memasuki liang misteri)? Kedua, seberapa yakin bahwa hubungan seksual dilakukan karena cinta, bukan nafsu? Bisa dua-duanya dengan persentase yang cuma bisa dikira-kira. Atau jangan-jangan hanya nafsu tetapi dijustifikasi sebagai cinta hanya supaya terdengar lebih mulia?

Akan tetapi ada juga yang bilang bahwa pengalaman hubungan seks pertama sebaiknya biasa-biasa saja. Tidak terlalu istimewa. Kalau begitu dahsyat, nantinya di hubungan berikutnya (dengan orang yang berbeda), orang akan terperangkap membandingkan sehingga tidak pernah tercapai kepuasan. Bukan rasa senang, melainkan menderita terperangkap memori masa lalu. Bagaimana hidup bisa berjalan maju kalau orang hanya melihat ke belakang?

Saya cukup pusing dengan hal ini. Sampai-sampai saya mengajukan pertanyaan, “Dalam hubungan kita sampai sekarang ini, do you want me just for sex?” Pertanyaan bodoh yang cukup membuat yang ditanya marah besar dan saya kelimpungan menjelaskan posisi saya, dan meredakan amukannya. Kemudian selama beberapa hari, saya berpikir. Saya mencoba untuk tidak terlalu mempedulikan apa yang dikatakan orang lain dan mulai menggali diri saya sendiri. Proses yang sulit. Orang terlalu sibuk mendengar sana sini dan akhirnya sulit membedakan yang mana suara hatinya.

Saya akhirnya memilih untuk tidak terlalu mempermasalahkan ini itu, wassa wussu. Pusing sana sini untuk hal-hal yang jangan-jangan sebenarnya tidak perlu terlalu dipikirkan. Begitu banyak hal yang mungkin bisa dijawab namun belum tentu itu adalah jawaban yang sungguh-sungguh benar. Pikiran manusia begitu penuh dengan referensi sehingga ia sulit sekali membedakan the real self-nya. Easy going saja. Saya percaya bahwa diri saya akan tahu kapan saat yang tepat. I’ll do it when I’m ready to.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s