to forgive (is/or) to forget

to forgive = to forget? saya tercenung sejenak ketika dihadapkan pada pertanyaan ini, yang sebetulnya pernyataan yang minta dikonfirmasi ulang. apakah memaafkan sama dengan melupakan? kok rasanya sulit sekali ya, dan bahkan tidak mungkin menurut saya, kecuali kesalahan yang harus dimaafkan itu dikubur dalam-dalam di unconsciousness sehingga tidak akan terbaca dalam psikodiagnostik apapun dan hanya bisa ‘dipanggil’ oleh ahli hipnotis yang kemampuannya paling tidak mendekati Tuhan yang pandai menyimpan dan ‘mengorek’ rahasia. atau mungkin saya terlalu mendramatisir karena saya tidak punya hati seluas itu untuk memaafkan, dalam arti juga melupakan?

taruhlah saya ditampar oleh seorang teman dan saya memutuskan untuk memaafkannya karena dia teman baik saya dan kami pun tetap menjadi teman baik. namun ketika masalah mulai timbul, bukan tidak mungkin saya mengungkit kembali peristiwa yang saya pikir telah saya lupakan. atau yang paling berat, kasus menyalahkan diri sendiri. ketika saya membuat kesalahan yang berakibat fatal pada diri saya, saya bisa memaafkan bisa tidak. taruhlah saya berhasil memaafkan, namun saat tertentu, ketika saya sedang bengong atau ada kejadian yang mirip, saya akan mengingat kesalahan saya kembali.

kognisi manusia tidak sebodoh yang kita kira. pada saat kita lupa, bukan berarti ingatan itu hilang, hanya tertumpuk-tumpuk saja atau sedang ruwet sehingga tidak bisa ‘dipanggil’. kejadian yang kita harap dilupakan ternyata tidak hilang dari memori kita. oleh karena itu, sewaktu-waktu bisa kembali ke area kesadaran kita. kalau kita tetap mempertahankan memaafkan sama dengan melupakan, terima saja konsekuensi, tidak ada maaf di dunia ini. lagipula kalau seluruh kesalahan dilupakan, manusia cenderung terperangkap dalam lubang yang sama, tidak ada rambu-rambu. akibatnya lupakanlah pernah ada experencial learning. manusia statis-statis saja.

lalu apa itu memaafkan? menurut saya, memaafkan berarti berusaha mengembalikan kondisi emosi ke kondisi ‘normal’ dan mau melanjutkan hidup dengan objek yang dimaafkan itu. misalnya, kalau memaafkan teman, masih mau berteman. kalau memaafkan diri sendiri, masih mau hidup (benar-benar hidup). mau hidup merupakan bentuk memaafkan paling dasar, dan bisa dikatakan memaafkan membuat kita hidup. tentunya relasi yang dibangun adalah relasi yang positif, tidak destruktif, tetapi tetap waspada agar tidak terulang kembali kesalahan yang mirip (tidak digunakan kata sama, karena seiring waktu, tidak ada yang sama di dunia ini, minimal waktunya saja sudah berbeda). hubungan yang positif kadang tidak perlu sepositif sebelumnya. kalau dirasa lebih atau sama positif baik, ya dibuat demikian. kalau dirasa lebih baik, sedikit kurang positif tapi tetap positif, tidak salah juga.

buat saya sendiri, memaafkan dalam definisi ini lebih mulia daripada melupakan. melupakan punya misi untuk tetap menjaga relasi sebagaimana sebelumnya. namun memaafkan punya misi membuat relasi positif tetapi memberikan kesempatan untuk experencial learning sehingga manusia bisa hidup dengan lebih baik (menurut definisinya sendiri, dari hatinya sendiri).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s