pita kuning

aku mau pulang. masihkah kau ada? aku pulang dengan 30 ekor anjing mnggelayut di telinga dan leherku. tentunya kau sudah tidak ada di sana. kau pergi membawa setoples permen coklat yang kutinggalkan di atas meja di ruang tamu tempo hari ketika kita sedang bernyanyi dengan gitar tuamu. aku ingat, kamu sering bercerita tentang kisah cintamu dengan permen coklat. aku tak mau tahu tapi ternyata aku tahu.

kau tahu di mana syal hijauku? rasanya aneh sekali, aku meletakkannya di atas ranjang kita beberapa menit yang lalu sebelum kita beradu emas di belakang lemari bajumu. kau sepertinya tak mau tahu tapi ternyata kau harus tahu. esoknya, aku menemukan syal hijau di atas ranjang kita dengan harum parfum mawar, parfum wanita, seperti parfumku tapi sedikit berbeda, lebih feminin. dan kau datang dari belakang pintu, memeluk pinggang dan punggungku, dengan sebotol parfum untukku. aku bahagia, sayangku. tentu kamu tahu tanpa ada keharusan atau tidak.

kenapa kamu selalu membawa burung-burung itu bersamamu? kau selalu tersenyum saja ketika aku bertanya dan aku tahu kau takkan pernah menjawab. burung-burung yang selalu berkicau dari ketiakmu dan pusarmu. aku pusing. mereka tak pernah diam kecuali malam. rak pernahkah kau lelah? kini aku mau tahu dan kupikir memang aku harus tahu.

kupikir aku harus pergi, aku harus mencari pita-pita kuning di sepanjang jalan. kudengat di persimpangan jalan, ada banyak sekali pita-pita kuning diikat di tiang-tiang listrik. dan kau bertanya untuk pertama kalinya, “kenapa?” kau berkata, kini kau mau tahu dan kau pikir memang kau harus tahu. aku bukan tidak mau kamu tahu. aku ingin tapi aku tak bisa karena aku sendiri tak tahu. terkadang ada saat dalam hidup dimana kita tak tahu alasannya, namun kita tahu bahwa kita harus melakukannya. dan aku merasa harus segera pergi ketika subuh. saat itu kau masih tidur dengan burung-burungmu.

aku tidak menemukan pita-pita kuning itu, sayangku. sama seperti aku tak pernah menemukan dirimu dalam dirimu. kau selalu pergi walaupun kau ada, dan selalu membenamkan suaramu di balik kicauan-kicauan burung. kau tak tahu yang aku tahu, kupikir dan mungkin kau pikir kau tak perlu dan tak mau tahu. aku pulang. masihkah kau ada?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s