SEPOTONG INTERMEZZO

Kepala pecah. Serpihan tengkorak, secerca kulit,
seuntai rambut membelai wajah putihnya.
Percikan darah jejaki sudut-sudut mata dan
bibirnya, bentuk bercak-bercak di semburat pipi
merahnya.

Matanya memandang kosong ke depan, seakan-
-akan hidup di dimensi yang berbeda. Mulutnya
mengatup, menandakan kebisuan isolasi dirinya,
namun tak sanggup sembunyikan bibir ranumnya.
Menggoda jiwa setiap roh yang berjumpa dengannya.

Seekor ulat tiba-tiba muncul dari belahan rambut
hitam legam nan panjangnya. Jelajahi sudut-sudut
wajah, berjalan melingkari matanya, menggesekkan
perut di kulitnya yang halus, menjilati darah-darah
yang mulai menghitam, dan mengecup bibirnya.

Namun tak ia sadari, tubuhnya luka-luka tergores
serpihan-serpihan tengkorak. Kesakitan nodai hasratnya,
sayangku. Lalu ia bergegas naik, ucapkan selamat tinggal,
dan menuju asalnya tinggalkan air mata di atas bibir merah
itu.

Tetapi mata itu tetap memandang kosong dan bibir itu
tetap mengatup. Hanya semburat merah menjadi rona
biru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s