HaRi InI: KaMis, 20 JaNuaRi 2005

Begitu mengagumkan ciptaan Tuhan, manusia. Manusia begitu kompleks sehingga banyak manusia yang tak sanggup memahami dirinya sendiri. Namun pemahaman terhadap diri sendiri sangatlah penting sebagai landasan hidup manusia. Siapa dirinya menentukan bagaimana ia menjalani hidupnya.

Kemudian lahirlah ilmu psikologi yang berusaha menjelaskan tentang tingkah laku manusia dengan berbagai pendekatan atau aliran. Oleh karena manusia masih merupakan misteri dengan segala kerumitannya, tidak ada teori yang dapat menjelaskan siapa manusia (melalui tingkah laku) secara menyeluruh. Banyak pula teori yang tidak ilmiah. Dengan kata lain, tidak dapat diuji kebenarannya secara penuh karena pada saat pengujian pasti ada kecacatan. Walaupun demikian, teori ini masih bisa diaplikasikan sesuai dengan kondisinya. Betapa rumit ciptaan Tuhan yang satu ini.

Hari ini saya menghadapi misteri diri saya sendiri. Ketika saya sedang duduk-duduk di kantin kampus sambil menunggu kedatangan seorang teman, saya iseng mengetik kata-kata di fitur SMS telepon selular saya. Herannya saya sama sekali tidak mengerti maksud kata-kata yang cukup aneh itu.

”Kudengar sitar dipetik

kupasung jantungku

Saat melodi berganti di tengah denting sunyi

kusobek selaput jantungku

hingga darah mengucur dari bibir jantungku

Ketika gendang ditabuh

kudekap jantungku

hingga terhenti denyutnya”



Jakarta, 20 Desember 2004

Saya kemudian berpikir dan teringat pada Freud, seorang selebritis psikologis mazhab psikoanalisis. Apakah mungkin tulisan saya ini didorong oleh unconsciousness saya? Apakah hal ini merupakan manifestasi dari keinginan saya yang belum atau tidak tercapai lalu bersublimasi dalam bentuk rentetan kata-kata?

Dalam rangka menjawab pertanyaan tentang makna kata-kata itu, saya berkonsultasi dengan dua orang teman. Secara tidak mengejutkan, mereka memberikan jawaban yang berbeda. Tidak ada jawaban yang pasti tentang manusia.

STUDI: PSIKOLOGI ATMAJAYA



Selama kurang lebih empat (mudah-mudahan) sampai lima tahun, saya harus berhadapan dengan kerumitan manusia dan belajar untuk memahaminya walaupun hal itu sangatlah sulit. Awalnya saya mengira dengan masuk jurusan psikologi, saya akan lebih memahami manusia (termasuk diri saya sendiri) terutama dalam konteks tingkah laku. Namun dugaan saya salah karena saya melupakan fakta bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks sehingga tidak ada jawaban pasti. Aliran-aliran yang adapun bermacam-macam dengan penjelasan yang kontradiktif dengan tokoh atau aliran lain. Saya tidak langsung mau menyerah. Semakin bingung, semakin saya tertantang.

Di universitas tempat saya menuntut ilmu, Atmajaya, mahasiswa diminta untuk memilih peminatan dari empat bidang psikologi ketika sudah belajar selama lima semester. Keempat bidang itu, antara lain, psikologi pendidikan, psikologi sosial, psikologi industri dan organisasi, serta psikologi klinis. Tampaknya saya harus sangat memperhatikan mata kuliah-mata kuliah yang saya ambil agar saya mengetahui minat dan keahlian saya. Peminatan ini akan diteruskan menjadi benar-benar jurusan ketika mengambil program magister.

Sebentar lagi saya akan segera menghadapi semester kedua dengan mata kuliah yang lebih banyak daripada semester pertama. Kalau saat semester pertama, saya hanya menanggung sembilan belas SKS, sekarang saya harus berhadapan dengan mata kuliah sejumlah dua puluh tiga SKS. Tampaknya saya harus lebih berlatih dan berusaha lagi melakukan pembagian waktu secara efektif dan efisien untuk performa saya, baik dalam bidang akademis maupun non akademis.

Urgensi ini selain didorong oleh beban SKS yang kian bertambah juga oleh kegiatan Teater Ungu yang semakin padat di tahun 2005 ini. Masih ada empat job yang harus diselesaikan dan parahnya, waktunya berdekatan. Menyadari keterbatasan diri saya, saya terpaksa melepas posisi saya dalam suatu organisasi. Organisasi ini dengan berat hati saya tinggalkan karena peran saya di dalamnya tidaklah krusial dan masih bisa dipegang orang lain. Kesimpulannya, dalam bidang non akademis, saya memilih untuk fokus dalam Teater Ungu.

TEATER DAN SAYA

A. TEATER PUTRI SANTA URSULA

Ada alasan lain yang turut mewarnai keputusan tersebut, yaitu kecintaan saya terhadap teater. Saya mulai mengenal teater sejak tahun pertama saya duduk di SMU. Teater yang saya ikuti bernama Teater Putri Santa Ursula (TPSU). Anggota TPSU terpilih melalui seleksi yang ketat dan keras (sehingga menyebalkan untuk saya). Saya tidak menyangka bahwa nama saya tercantum dalam pengumuman anggota baru TPSU karena saya tidak melakukan usaha yang memukau ketika seleksi. Belakangan saya tahu ada seorang alumni yang memperjuangkan saya karena melihat kegigihan saya dan berharap hal itu menjadi modal untuk lebih mengembangkan TPSU. TPSU, katanya, lebih membutuhkan dedikasi daripada bakat. Ucapannya tenyata terbukti tepat di kemudian hari setelah saya berproses sekian lama bersama teater putri ini.

Selama saya bergabung dalam teater ini, saya merasakan kekeluargaan yang begitu erat, yang belum pernah saya rasakan di tempat yang seharusnya didasarkan pada hal itu (baca: keluarga). Kekeluargaan ini kian erat ketika sedang menjalani proses latihan untuk sebuah pementasan. Berbagai macam persoalan datang menghampiri dan semuanya membuat kami semakin erat karena kami sadar dengan bersatu, segala persoalan akan terasa lebih mudah untuk diselesaikan. Itulah sebabnya setelah pementasan berlangsung, saya tidak merasa senang sepenuhnya. Ada kesedihan di hati saya karena proses itu sudah berakhir. Memang kami masih akan berkumpul lagi tetapi dalam situasi yang berbeda dengan saat persiapan pementasan. Mengutip perkataan seorang teman yang terjun dalam dunia teater profesional, ”Dalam teater, proses adalah intinya sedangkan pentas hanyalah pestanya.” Saya setuju sepenuhnya dengan pernyataan tersebut.

B. TEATER UNGU

Saya tidak ingin kehilangan pengalaman berteater sehingga selepas dari SMU Santa Ursula dan bergabung dengan keluarga besar Unika Atmajaya, saya berusaha mencari informasi mengenai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) teater. Saya bingung karena dalam masa orientasi, UKM teater sama sekali tidak diperkenalkan padahal setahu saya ada sebuah grup teater bernama Teater Ungu di Atmajaya. Secara kebetulan, saya membaca poster kecil Teater Ungu yang mengajak mahasiswa untuk turut bergabung dalam latihannya. Merasa tertarik, saya mengikutinya sampai sekarang walaupun belum resmi menjadi anggotanya. Bersama dengan tiga orang rekan lagi, saya menunggu pelantikan anggota Teater Ungu angkatan V.

Belakangan saya mengetahui bahwa Teater Ungu belum berstatus UKM atau bisa juga disebut UKM ilegal. Hal ini menimbulkan pertanyaan dalam benak saya. Teater Ungu telah melakukan banyak pementasan sendiri ataupun dalam acara kampus dengan membawa bendera Atmajaya. Setahu saya, Teater Ungu termasuk dalam jajaran teater yang cukup terkenal. Mengapa sampai sekarang belum diberikan status UKM oleh universitas?

Isu ini kerap dibicarakan dan selalu diusahakan jalan keluarnya, yaitu dengan mengirim proposal kepada pihak ‘atas’ namun selalu membuahkan kekecewaan, sebuah penolakan. Selalu menjadi harapan tiap angkatan, bahwa angkatan mereka sanggup untuk meluluhkan kekerasakepalaan pihak universitas dan menjadi asa angkatan V mendatang pula. Semoga penantian Teater Ungu berakhir dengan sebuah keberhasilan, senyum kebahagiaan seiring dengan masuknya angkatan V dalam keluarga Teater Ungu. Amien!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s